Oleh: Muhammad Ahnu Idris

I. Pendahuluan

Dalam dunia komunikasi ada sebuah pernyataan aksiomatis: “manusia tidak mungkin tidak berkomunikasi” atau “manusia tidak dapat mengelak dari komunikasi”. Aksioma ini secara singkat berarti tiada hari tanpa komunikasi. Komunikasi telah ada sejak manusia lahir, dan akan terus ada sepanjang manusia hidup.[1]

Untuk menyampaikan pesan saat berkomunikasi dan bertukar informasi, berbagai media dimanfaatkan oleh komunikator baik berupa: 1) media interpersonal; 2) media permainan interaktif; 3) media pencarian informasi; 4) media partisipasi kolektif.[2] Keempat jenis media tersebut biasa dikelompokkan pada kategori media baru.[3]

Istilah media baru sampai saat ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Istilah ini sering diartikan secara sederhana yaitu media interaktif berbasis komputer.[4]

Jika ditinjau dari fungsi teknisnya, media baru menurut Pavlik adalah media yang meliputi beberapa hal: pertama, produksi. Merujuk pada pengumpulan dan pemrosesan informasi yang meliputi komputer, fotografi elektronik, scanner optikal, remote yang tak lagi mengumpulkan dan memproses informasi melainkan juga menyelesaikan masalah secara lebih cepat dan efisien; kedua, distribusi. Merujuk pada pengiriman atau pemindahan informasi elektronik; ketiga, display. Merujuk beragam teknologi untuk menampilkan informasi; keempat, storage. Merujuk pada media yang menggunakan penyimpanan informasi dalam format elektronik.[5] Media baru inilah yang banyak digunakan oleh masyarakat informasi, termasuk Indonesia yang masih berada dalam era transisi dari era industri menuju era informasi.[6]

Berdasarkan prediksi Alvin Toffler, era kemnausiaan saat ini sudah memasuki era ketiga, yaitu masyarakat informasi. Menurutnya, era kemanusiaan dibagi dalam tiga era pokok, yaitu: era masyarakat agraris, masyarakat idnustri dan, masyarakat informasi.[7] Era masyarakat informasi ini disebut juga era modern.[8] Pernyataan ini didasarkan pada kesepakatan para pakar komunikasi bahwa salah satu tanda era modern adalah era informasi.[9] Pada era ini, setiap rumah diperkirakan memiliki sekitar 5-20 media komunikasi. Selain itu, pernyataan Toffler tersebut, kondisi masyarakat saat ini sudah memenuhi kriteria masyarakat informasi. Disebut era masyarakat informasi apabila sedikitnya 50% masyarakat sudah terlibat secara langsung dalam kegiatan informasi, seperti berbagai industri informasi, pusat-pusat atau sumber-sumber informasi dan seterusnya.[10]

Untuk Indonesia sendiri, sebenarnya konsep information society atau masyarakat informasi sudah digaungkan sejak tahun 1970,[11] akan tetapi belum ada penelitian yang mentasbihkan kesiapan Indonesia menyongsong era masyarakat informasi.[12] Hal ini didasarkan pada data Internet World Stats pada tahun 2012 yang menempatkan Indonesia pada peringkat empat Asia sebagai negara pengguna internet terbanyak setelah Jepang.[13] Sebagaimana dikatuhi, akhir-akhir ini internet menjadi salah satu media informasi yang paling sering digunakan oleh masyarakat.[14] Media ini semakin menghilangkan sekat pembatas antara individu yang satu dengan lainnya.

Sebagai mana istilah media baru, istilah masyarakat informasi sampai saat ini juga masih menjadi bahan perdebatan, baik dari segi definisi, cakupan, esensi dan kondisi aktual yang mendukung lahirnya konsep ini.[15]

II. Pembahasan

Pada dasarnya, istilah masyarakat informasi melekat dalam setiap tahapan masayarakat yang ada. Adalah sebuah kenyataan bahwa setiap kelompok sosial mempunyai kebutuhan dan tuntutan tindakan komunikatif-informatif. Hanya memang perkembangan dinamika sejarah kemanusiaan menempatkan komunikasi dalam konteks masyarakat informasi industrial yang dipicu dan dibantu oleh teknologi yang mampu memampatkan keterbatasan ruang dan waktu.[16]

Sebagai contoh, industri yang dikembangkan penerbit, studio film maupun stasiun televisi sudah merambah pada konten media. Hal ini terjadi karena dalam teknologi digital dapat dilakukan konversi data yang murah, cepat dan efisien dari model media satu ke model media lain. Ini bisa dilihat dengan banyaknya film yang dikonversi menjadi permainan virtual, seperti: Die Another Daya, Lord of The Ring: The Return of King atau rangkaian acara televisi yang berjudul Smack Down. Film-filem tersebut sekarang bisa dimainkan di komputer atau Play Station sampai generasi ke-2. Permainan Street Fighter atau Tomb Rider produksi Eidos Interactive yang bisa dimainkan lewat perangkat komputer atau Play Station kemudian dibuat filmnya. Begitu juga penerbit kini dapat memasarkan bukunya dalam bentuk CD-ROM.[17]

Masyarakat Informasi

Menculnya informasi di masyarakat menyebabkan masyarakat harus mengelola informasi: bagaimana cara anggota masyarakat memperlakukan informasi, penghargaan terhadap informasi, bagaimana cara orang mencari informasi, bagaimana orang membutuhkan informasi. Pengelolaan informasi tersebut kemudian memunculkan istilah masyarakat informasi (information society).[18]

Berbagai tokoh berbeda-beda dalam mengartikan istilah masyarakat informasi, di antaranya adalah Willian Martin. Menurut Martin, masyarakat informasi adalah suatu masyarakat di mana kualitas hidup dan juga prospek untuk perubahan sosial dan perkembangan ekonomi, tergantung pada peningkatan informasi dan pemanfaatannya.[19]

Definisi lain dari information society adalah sebagaimana disampaikan oleh Joey F. George. Menurutnya, masyarakat informasi adalah sesuatu keadaan masyarakat di mana produksi, distribusi dan manipulasi suatu informasi menjadi kegiatan utama. Dalam masyarakat ini standar hidup, pola kerja dan kesenangan, sistem pendidikan dan pemasan barang-barang sangat dipengaruhi oleh akumulasi peningkatan informasi.[20]

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat informasi ditandai dengan intensitas yang tinggi atas pertukaran dan penggunaan teknologi komunikasi. Dapatk dikatakan pula bahwa informasi menjadi kebutuhan pokok sehingga dapat dinyatakan dengan ungkapan “information is the lifeblood that sustains political, social and bussiness decision”.[21]

Pada dasarnya information society adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sebuah masyarakat yang dapat membuat kemungkinan terbaik dalam menggunakan informasi dan teknologi komunikasi baru (new information and communication technologie) atau yang biasa disingkat ICT.[22]

New Media: Pengertian, Keunggulan dan Kekurangannya

New Media

Klasifikasi jenis media ke dalam karakteristik media lama dan media baru memprlihatkan kekuatan perubahan yang terjadi. Pada dasarnya, semua jenis media pada zaman masing-masing merupakan hasil temuan teknologi terbaru. Namun dalam konteks kekinian pada dekade akhir 90-an dan dekade awal milenium, media lama seperti cetak, radio, film dan televisi memiliki karakter yang dikategorikan sebagai media konvensional atau media lama. Sedangkan bentuk konvergensi dalam teknologi digital online disebut sebagai media baru.[23]

Studi tentang media baru muncul sebagai salah satu cabang teori komunikasi seiring klaim bahwa lingkungan media konvensional menghadapi tantangan inovasi teknologi. Namun pada tataran ekologis, secara substansial, lebih pada perubahan kualitatif daripada pengembangan secara perlahan terhadap lingkungan media. Salah satu perubahan substansial terhadap media dilakukan McLuhan, penemu istilah “media” dalam Electronic Revolution: Electronic Effect of New Media. Ia berargumentasi bahwa pengaruh revolusi elektronik pada 1950-an di Amerika Serikat sehingga membuat para pendidik salah-menempatkan kehidupan orang-orang dalam satu dunia yang sedikit dikerjakan dengan lainnya di mana mereka tumbuh. Bagi McLuhan, revolusi ini menghasilkan ruang-kelas tanpa dinding sebagai telekomunikasi dan televisi yang membawa suatu struktur informasi berkesinambungan untuk masyarakat elektronik.[24]

Konsepsi media baru sangat bergantung pada periode pembanding antara perangkat lama dan baru. Konsepsi “kebaruan” media sejak awal menjadi perhatian McLuhan yang memandang peran media sebagai extension of man (kepanjangan tangan manusia):[25] apapun perangkat yang diciptakan untuk membantu mempermudah kerja manusia, itulah yang dimaksud dengan “kepanjangan tangan manusia”.

Sebagaimana dipaparkan dalam pendahuluan tulisan ini, istilah media baru sampai saat ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Istilah ini sering diartikan secara sederhana yaitu media interaktif berbasis komputer.[26] Ada juga yang mengartikan sebagai era digital.[27]

Tidak jauh beda dengan pengertian singkat tersebut di atas, Flew mengartikan new media atau media digital adalah media yang kontennya berbentuk gabungan data, teks, suara dan berbagai jenis gambar yang disimpan dalam format digital dan disebarluaskan melalui jaringan berbasis kabel optik broadband, satelit dan sistem transmisi gelombang mikro.[28]

Ron Rice (dalam setiawan: 2013) mengartikan media baru sebagai istilah yang dimaksudkan untuk mencakup kemunculan digita, komputer atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi di akhir abad ke-20.[29]

Dari pemaparan singkat ini, menjelaskan bahwa sebagian besar teknologi yang digambarkan sebagai media baru adalah digital, seringkali memiliki karakteristik dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padat, interaktif dan tidak memihak. Beberapa contoh dapat disebutkan seperti: internet. Website, komputer multimedia, permainan komputer, CD-ROMS, dan DVD. Atau dengan kesimpulan lain, media baru bukanlah televisi, film, majalah, buku atau publikasi berbasis kertas.

Keunggulan dan Kekurangan Media Baru

Media dengan platform digital memiliki banyak kelebihan dibandingkan media konvensional. Selain membuka jalur komunikasi dua arah, media baru —pada era informasi— ini memiliki performa kualitas tayangan dan sebaran lebih luas pula. Karakter terakhir yang diusung media baru adalah audience generated, memungkinkan khalayak mendistribusikan konten yang mereka himpun sendiri[30] mulai dari berita sampai transaksi jual beli.

Selain itu, menurut Croteau media baru juga dapat memberikan cakupan yang lebih luas. Menurutnya, media baru yang muncul akibat invasi teknologi dalam bidang media meliputi: televisi kabel, satellites, teknologi optic fiber dan komputer. Melalui teknologi tersebut, pengguna bisa secara interaktif membuat pilihan serta menyediakan respon produk media secara beragam.[31]

Pada era masyarakat informasi industri media massa mau tidak mau harus bertransformasi dari bentuk analog menjadi digital. Hal ini dikarenakan ciri khas produk teknologi di era ini menawarkan produktivitas, efisiensi, kecepatan dan lintas batas, sebagaimana dipaparkan sebelumnya. Perangkat komunikasi teks, audio dan visual yang sebelumnya terpisah kini berpadu dan konvergen dalam satu perangkat transmisi yang menggabungkan fungsi media penyiaran lama ke dalam satu platform media baru. Semuanya didukung oleh jaringan global internet, yang mengintegrasikan media massa: komputer, dan jaringan telekomunikasi atau belakangan lazim disebut sebagai konvergensi media.[32]

Dari penjelasan new media di atas, maka dapat diketahui new media memiliki beberapa manfaat sebagai berikut:[33]

  • Arus informasi yang dapat diakses dengan mudah dan cepat dimana saja dan kapan saja;
  • Sebagai media transaksi jual-beli;
  • Sebagai media hiburan, contohnya game onlien, jejaring sosial, streaming video, dll;
  • Sebagai media komunikasi yang efisien sehingga dapat berkomunikasi dengan orang yang berada jauh sekalipun, bahkan bertatap muka melalui video conference.

Selain kelebihan, new media juga memiliki kekurangan-kekurangan:[34]

  • Terbukanya informasi menimbulkan kemungkinan pencurian data pribadi. Hal ini bisa dilakukan hacker dengan tujuan-tujuan tertentu;
  • Terbukanya arus informasi dan komunikasi juga dapat membawa virus berkedok aplikasi yang mudah menyebar;
  • Rasa ketagihan berlebihan, contohnya pada saat bermain game online atau jejaring sosial.

Media Baru Dalam Masyarakat Informasi

Efek dari teknologi baru komunikasi, tidak terjadi pada level pengetahuan dan pendapat secara sadar, teknologi juga dapat mempengaruhi individu pada tingkat bawah sadar (subliminal) dari rasio akal dan pola persepsi, maka dari itu McLuhan (dalam Hidayat: 2015) mengatakan bahwa media adalah pesan. Baginya, perkembangan teknologi dari perspektif kontemporer melihat bahasa itu sendiri sudah berperan sebagai alat, pesan itu ada pada media, dan sebaliknya.[35]

Masyarakat kemudian berkembang seiring perkembangan teknologi yang menyertai zamannya. Kekuatan informasi dalam masyarakat maju merupakan sebuah indikator atas perubahan zaman. Dahlan (dalam Hidayat: 2015) memastikan bahwa informasi adalah dasar kekuasaan dalam masyarakat masa depan, seperti tanah di masyarakat pertanian, atau uang dan barang modal dalam masyarakat industri. Menurutnya, informasi memiliki kekuatan sehingga tidak dapat diberikan kepada produsen informasi melainkan dalam kepemilikan atau penerapan sumber daya informasi. Pentingnya informasi yang terus berkembang tidak hanya dari segi ekonomi tetapi juga dalam konteks seluruh masyarakat pada umumnya.[36]

Daniel Bell (dalam Hidayat: 20015) juga menegaskan bahwa informasi adalah komoditas yang sangat dihargai dalam masyarakat informasi sehingga berdampak pada struktur sosial. Mereka yang menghasilkan informasi baru (ilmuwan, insinyur, profesor) akan diperlakukan sebagai “elit super” dalam struktur kelas tertentu. Informasi juga dianggap oleh Bell sebagai sumber daya strategis untuk transformasi masyarakat dalam segala aspek, termasuk politik. Bell mengatakan, “saya akui saya tidak terpesona dengan cita-cita orang-orang yang berpikir bahwa keadaan normal manusia itu berjuang untuk mendapatkan dengan menginjak-injak, menghancurkan, menyikut, dan menginjak tumit masing-masing, untuk membentuk kehidupan sosial. Itulah hal yang paling diinginkan oleh banyak jenis manusia, atau apa pun. Kecuali gejala tidak menyenangkan dari salah satu fase kemajuan industri.[37]

Implikasi teknologi komunikasi juga menjadi perhatian Mark Poster. Peneliti di University of California, Irvine, AS itu menyatakan bahwa perkembangan baru media elektronik seperti Internet menghasilkan suatu realitas yang disebut Virtual reality dan memberikan arah untuk memasuki suatu era pascamodern yang dia sebut sebagai The Second Media Age. Internet menjadi medium alternatif atas kendala teknis yang parah dari model siaran selama ini.[38] Kehadiran media komunikasi baru dengan peningkatan teknis bagi pertukaran informasi pada aspek individu dan institusi, hal itu memungkinkan sistemnya bisa memuat banyak produsen, distributor, dan konsumen sekaligus.[39]

Selain keuntungan-keuntungan tersebut, media baru (berbasis jaringan) juga berpengaruh besar dalam membentuk perilaku penggunanya.

Seorang psikolog bernama Sherry Turkle menulils Life on the Screen. Tulisan ini berbicara mengenai identitas komunitas pengguna internet serta mengenai dampak komputer jaringa pada masyarakat, bagaimana mempersepsikan diri mereka sendiri, dan hubungan individu dengan mesin. Namu, ketrikatan pada media, baik lama mapun baru, menegaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari individu mungkin sulit untuk membangun komunikasi tatap muka karena dibatasi ruang.[40]

Selain itu, Turkle juga berupaya mengeksplorasi perilaku keintiman orang-orang dengan media digital dalam The Second Self. Turkle menganalisis komputer bukan sebagai alat semata, melainkan sebagai bagian kehidupan sosial. Secara psikologi, saat pengguna terkoneksi, mesin itu seolah-olah dilihat memiliki pikiran dan jiwa, dan seperti menggantikan badan dalam interaksi manusia secara langsung. Turkle juga menyampaikan dalam hasil risetnya mengenai identitas online, yakni bagaimana pengguna berkomunikasi daring untuk mengontrol seberapa banyak pengungkapan diri atau, proyek berssama membangun identitas yang baru sama sekali.[41]

III. Penutup

Setelah melalui beberapa tahapan era, kini manusia memasuki era informasi. Era ini menjadikan informasi sebagai kebutuhan pokok manusia untuk menguasai berbagai sektor kehidupan. Masyarakat yang hidup di era ini disebut sebagai masyarakat informasi.

Era ini ditandai dengan kemunculan media-media baru berbasis jaringan dan digital. Media-media konvensional (lama) yang tidak efisien bagi masyarakat ini, terkonvergensikan menjadi “satu” media digital sehingga memudahkan para penggunanya.

Dalam masing-masing eranya, media komunikasi mempunyai dan menfungsikan perannya masing-masing, baik itu media konvensional maupun media baru.

Sekalipun istilah media baru ini masih menjadi perdebatan, tapi tetap menarik perhatian para peneliti untuk mencari pengaruhnya terhadap masyarakat.

Sebagaimana media konvensional, media baru juga memiliki keunggulan-keunggulan dan kekurangannya masing-masing.

End Note

[1] Alo Liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: LkiS, 2002), 3.

[2] Novi Kurnia, “Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Media Baru: Implikasi Terhadap Teori Komunikasi”, MediaTor, Vol. 6, No. 2 (Desembar 2005), 292-293.

[3] Ibid 292.

[4] Ibid.

[5] Ibid 293.

[6] Wira Respati, “Transformasi Media Massa Menuju Era Masyarakat Informasi di Indonesia”, Humaniora, Vol. 5, No. 1, (April 2014), 42.

[7] AG, Eka Wenats Wuryana, “Digitalisasi Masyarakat: Menilik Kekuatan dan Kelemahan Dinamika Era Informasi Digital dan Masyarakat Informasi”, Ilmu Komunikasi, Vol. 01, No. 2, (Desember 2005), 131.

[8] Abdul Karim Batubara, “Pemanfaatan Media Komunikasi Massa Sebagai Sumber Informasi”, Iqra’, Vol. 2, No.1, (November 2001), 73.

[9] Ibid, 131-132.

[10] Batubara, “Pemanfaatan Media”, 73.

[11] Rhoni Rodin, “Transisi Masyarakat Indonesia Menuju Masyarakat Informasi”, Palimpsest, Vol. 3, No. 1, (Februari 2011), 3.

[12] Kurnia, “Perkembangan Teknologi”, 291.

[13] Respati, “Transformasi Media”, 42.

[14] Ibid, 39.

[15] Rodin, “Transisi Masyarakat”, 3.

[16] Wuryana, “Digitalisasi Masyarakat”, 132.

[17] Ibid, 136.

[18] Florida Nirma Sannya, “Menjadi Masyarakat Informasi”, SIFO Mikroskill, Vol. 13, No. 1, (April 2012), 74.

[19] Rodin, “Transisi Masyarakat”, 3.

[20] Sanny, “Menjadi Masyarakat”, 74.

[21] Wuryanta, “Digitalisasi Masyarakat”, 132.

[22] Sanny, 74.

[23] Zinngara Hidaya, “Dampak Teknologi Digital Terhadap Perubahan Kebiasaan Penggunaan Media Masyarakat” (Laporan Penelitian Internal Dosen—Universitas Esa Unggul, Jakarta, 2015), 2

[24] Ibid, 6.

[25] Marshall McLuhan, Understanding Media: The Extention of Man, (New York: McGraw-Hill Publishing Company, 1964), 318.

[26] Kurnia, “Perkembangan Teknologi”, 292.

[27] Respati, “Transformasi Media”, 40.

[28] Terry Flew, Media: An Introduction, Cet. III (South Melbourne, Oxford University Press, 2008), 2-3.

[29] Rudy Setiawan, “Kekuatan New Media dalam Membentuk Budaya Populer di Indonesia”, Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 1, No. 2, (Januari 2013), 316.

[30] Ibid.

[31] David Croteau dan William Hoynes, Media/Society: Industries, Images, and Audiences (London: Pine Forge Press, 1997), 12.

[32] Respati, “Transformasi Media”, 40.

[33] Setiawan, “Kekuatan New Media”, 362.

[34] Ibid.

[35] Hidayat, “Dampak Teknologi”, 7.

[36] Ibid, 14-15.

[37] Ibid, 15.

[38] Mark Poster, The Second Media Age, (New York: John Wiley & Sons, 1995), 200.

[39] Sherry Turkle, Life on the Screen: Identity in the Age of the Internet, (Simon & Schuster, 1995), 347.

[40] Ibid.

[41] Ibid.

Daftar Pustaka

Batubara, Abdul Karim. “Pemanfaatan Media Komunikasi Massa Sebagai Sumber Informasi”, Iqra’, Vol. 2, No.1. November 2001.

Croteau, David dan Hoynes, William Media/Society: Industries, Images, and Audiences. London: Pine Forge Press, 1997.

Flew, Terry. Media: An Introduction, (Cet. III). South Melbourne, Oxford University Press, 2008.

Hidaya, Zinngara. “Dampak Teknologi Digital Terhadap Perubahan Kebiasaan Penggunaan Media Masyarakat”. Laporan Penelitian Internal Dosen—Universitas Esa Unggul, Jakarta, 2015.

Kurnia, Novi. “Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Media Baru: Implikasi Terhadap Teori Komunikasi”, MediaTor, Vol. 6, No. 2. Desembar 2005.

Liliweri, Alo. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LkiS, 2002.

McLuhan, Marshall. Understanding Media: The Extention of Man. New York: McGraw-Hill Publishing Company, 1964.

Poster, Mark. The Second Media Age. New York: John Wiley & Sons, 1995.

Respati, Wira. “Transformasi Media Massa Menuju Era Masyarakat Informasi di Indonesia”, Humaniora, Vol. 5, No. 1. April 2014.

Rodin, Rhoni. “Transisi Masyarakat Indonesia Menuju Masyarakat Informasi”, Palimpsest, Vol. 3, No. 1. Februari 2011.

Sanny, Florida Nirma. “Menjadi Masyarakat Informasi”, SIFO Mikroskill, Vol. 13, No. 1. April 2012.

Setiawan, Rudy. “Kekuatan New Media dalam Membentuk Budaya Populer di Indonesia”, Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 1, No. 2. Januari 2013.

Turkle, Sherry. Life on the Screen: Identity in the Age of the Internet. Simon & Schuster, 1995.

Wuryana, AG. Eka Wenats. “Digitalisasi Masyarakat: Menilik Kekuatan dan Kelemahan Dinamika Era Informasi Digital dan Masyarakat Informasi”, Ilmu Komunikasi, Vol. 01, No. 2. Desember 2005.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *