Oleh: Abd. Ghani, M.Pd.I

Kalau kita ingin menilai kualitas seorang pemimpin, kita bisa melihat dari kebijakan-kebijakan yang dibuatnya selama memimpin, serta sejauh mana keberhasilannya dalam menyukseskan kebijakan-kebijakan itu. Mengapa demikian? Karena semua itu merupakan indikator paling utama yang bisa kita jadikan sebagai tolak ukurnya. Kelayakan seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa banyak dia muncul di media (populer), atau seberapa banyak dia blusukan, tetapi apakah kebijakannya reformatif dan mendorong kemakmuran masyarakat.

Tentu saja, dalam membuat kebijakan, sama sekali tak ada hubungannya dengan agama sebegaimana belakangan ini agama banyak dijadikan kendaraan politik untuk dijadikan indikator apakah seseorang layak atau tidak untuk menahkodai masyarakat yang beragama tertentu. Sekali lagi tak ada hubungannya dengan itu.

Satu model kepemimpinan yang ideal (layak) mengandaikan satu syarat tertentu: visioner. Seroang pemimpin harus mempunyai visi ke depannya. Tentu, untuk bisa memebuat kebijakan yang reformatif, perlu pengandaian lain yang bisa menunjangnya, yaitu dia mesti seorang yang amanah. Kata yang terakhir ini—sebagai sifat yang harus ada pada diri seorang pemipin—pernah diungkap oleh Ibnu Taimiyah dalam salah satu korpusnya yang terkenal al-Siyasah al-Syar’iyyah fi Ishlah al-Ra’i wa al-Ra’iyyah. Sebab, bagi Taimiyah “… dengan sikap amanah, pemerintahan yang adil akan tercapai. Selain itu, sikap amanah akan meminimalisir atau menghilangkan sama sekali sikap nepotistik yang seringkali terjadi di dunia pemerintahan.” Mencari pemimpin dengan tipikal demikian di masa sekarang menjadi sesuatu yang langka (untuk tidak megatakan mustahil sama sekali).

Pemimpin semacam itu, mengingatkan kita pada sosok khalifah yang dinekal dengan Amir al-Mu’minin atau Khalifatu Khalifati Rasulillah (suksesor dari suksesor Nabi). Dialah Umar bin Khattab. Khalifah yang sempat memimpin umat Islam selama kurang lebih sepuluh tahun ini merupakan manifestasi dari dua entitas yang disebut Ibnu Taimiyah tadi. Dia adalah potret pemimpin amanah sekaligus adil.

Penyebutan dirinya sebagai Khalifatu Khalifati Rasulillah menggambarkan betapa Umar merasa tidak pantas untuk menjadi nahkoda bagi masyarakatnya. Padahal Abu Bakar yang menunjuk dirinya—sistem tunjuk ini oleh Abdul Wahhab an-Nujjar disebut juga dengan sistem thariqul ahad—untuk menggantikan tampuk kekhalifahan sudah terlebih dahulu meminta mufakat dari beberapa tokoh senior lainnya. Bahkan ketika ia dilantik dan menyampaikan pidato-nya, kata-katanya cukup mengejutkan. “Saudara-saudara, saya hanyalah salah seorang dari kalian. Kalau bukan karena segan menolak tawaran sang khalifah rasulillah (Abu Bakar), saya pun akan enggan memikul tanggung jawab ini.” Secara kebahasaan, pernyataan ini menunjukkan betapa Umar merasa ciut sekali di hadapan amanah yang akan dipikulnya. Padahal pada waktu, Umar dikenal dengan sosok yang keras, tegas, dan berani. Tetapi di saat dibebani amanah, ia merasa lemah sekali dan jauh dari kepantasan. Ini berbeda sekali dengan fenomena belakangan, dimana tampuk kekuasaan selalu menjadi rebutan.

Tetapi, dengan perasaan ke-tidak pantasan itu justru memompa semangat Umar untuk terus memajukan masyarakat yang dipimpinnya. Perasaan yang demikian terus mendukung dirinya untuk selalu memproduksi ide-ide cemerlangnya. Bahkan ekspansi besar-besaran justru terjadi di masa Umar. Wilayah kekuasaannya sangat luas. Bahkan dua kekuatan adidaya—Persia dan Romawi—pada waktu itu berhasil diruntuhkan dan dikuasai.

Sebagai refleksi dari kepemimpinan Umar, ada serial film berjudul Omar. Film yang terdiri dari 31 episode (seri) ini berhasil mendokumentasikan rekam jejak pemimpin yang juga dikenal dengan al-Faruq ini dari masa muda hingga akhir hayatnya. Naskah film ini ditulis oleh Waleed Saif (sejarawan terkemuka) dan diproduksi oleh 03 Production dan Midle East Broadcasting Centre (MBC) Dubai dengan latar dua Negara seperti Maroko dan Suriah. Dalam satu segmen, Umar digambarkan sebagai pemimpin yang sangat amanah. Ia menekankan bahwa pemimpin harus menjauhi hal-hal yang bisa memperkaya dirinya sendiri dari uang yang didapat dari rakyat. Tak hanya itu, ia memilih gubernur-gubernur yang akan memimpin di berbabagai distrik kekuasaannya dengan sangat hati-hati. Bahkan tak segan ia memecat seorang gubernur yang dinilai tak amanah dan menggantikannya dengan yang lebih amanah.

Film ini sangat memukau dan layak ditonton. Sebab di dalamnya terdapat aneka teladan yang pantas untuk dicontoh. Penggarapan film ini digarap dengan hati-hati, bahkan untuk menentukan otentisitas cerita yang ditayangkan, film ini melibatkan banyak profesor dan ulama’. Salah satu di antaranya yang terlibat adalah ulama’ besar asal Mesir yang beberapa fatwanya banyak menjadi pegangan umat muslim di Indonesia dan dunia, yaitu Yusuf al-Qardhawi.

Kebijakan-kebijakan Umar saat menjadi khalifah, memang banyak keluar dari mainstrem. Bahkan dalam beberapa hal, berbeda dengan Abu Bakar sama sekali. Tetapi semua itu bukan tanpa dasar yang kuat. Ijtihad-ijtihad Umar—seperti pembentukan dewan kharaj (jawatan pajak) dan dewan ahdats (jawatan kepolisian), desentralisasi administrasi, pembentukan ahlu al-halli wa al-aqdi, dan lain sebegainya—dalam beberapa hal menunjukkan betapa Umar sangat lihai melihat apa yang menjadi mashlahah bagi masyarakatnya. Semua dikaji dari berbagai aspek terlebih dahulu dalam kerangka kemaslahatan tersebut. Umar sadar betapa beberapa ijtihadnya akan menjadi kontroversi. Tapi yang dipertimbangkan bukan apakah kebijakan itu diterima luas dan populer, melainkan apakah kebijakan itu menjadi baik atau tidak bagi masyarakat.

Kemunculan ijtihad-ijtihad Umar yang sangat reformatif pada waktu itu dinilai sebagai pengaruh dari mulai ditemukannya kata-kata yang dianggap musytarak (lugas atau kiasan) dalam al-Qur’an.

Selama memimpin, yang ada di benak Umar hanya bagaimana menjadikan masyarakat yang dipimpinnya sejahtera dan makmur. Karena itu, salah satu ijtihadnya yang paling terkenal, ia tidak memotong tangan pencuri yang terbukti mencuri karena alasan kelaparan. Di lain kesempatan, ia pernah blusukan ke pelosok-pelosok negeri dan menemukan seorang Ibu merebus batu untuk membuat anaknya yang kelaparan tak menangis. Seketika itu pula Umar langsung mengambil sekarung gandum dari gudang negara dan dibawa dengan dipikulnya sendiri untuk diberikan kepada ibu miskin tersebut dimana jaraknya cukup jauh dari Madinah. Adegan ini sempat dimunculkan secara jelas di salah satu episode pada film Omar. Beginilah seharusnya seorang pemimpin. Ia tak takut apapun selain takut untuk tak amanah.

Beberapa kebijakan Umar di atas, hanya sebagian kecil dari apa yang dilakukannya, dan masih banyak kebijakan-kebijakannya yang tak sempat disebutkan di sini. Tetapi, sekali lagi, yang ingin penulis sampaikan: lihatlah kelayakan seorang pemimpin dari kebijakan-kebijakannya. Sekian…

*Artikel ini sudah pernah ditulis oleh majalah MataHati Surabaya, dan dimuat lagi di web ini dengan harapan bermanfaat untuk mahasiswa dan semua elemen Masyarakat yang membutuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *