Oleh: Saifu Amin, M.H.I.

Sebagai bagian dari civitas akademika, penulis merasa prihatin sekaligus malu ketika melihat realitas mahasiswa yang semakin hari semakin mengalami dekadensi moral. Mahasiswa kini sering berperilaku layaknya sebagai seorang preman, atau bahkan sering berperilaku layaknya sebagai hewan yang tidak pernah berpikir dalam setiap tindak-tanduknnya. Seakan-akan mereka tidak sadar bahwa dirinya sebagai kaum intelektual yang seharusnya memberikan contoh perilaku yang baik kepada semua masyarakat secara umum. Akan tetapi dengan segala arogansinya kini mahasiswa sudah mengabaikan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai agent of social control. buktinya akhir-akhir ini sering kita lihat di media-media, baik di televisi, media online, atau di koran-koran yang meliput serta memberitakan tindakan amoral yang dilakukan oleh mahasiswa, seperti tawuran, demonstrasi anarkis, perbuatan mesum, bahkan praktek aborsi. Na’udzubillah

Tindakan anarkis dan demonstrasi tidak etis yang terjdi beberapa hari yang lalu di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), serta praktek aborsi yang dilakukan oleh oknom mahasiswi di beberapa kota besar, merupakan bukti konkrit bahwa mahasiswa kini telah mengalami dekadensi moral yang sangat memprihatinkan semua lapisan masyarakat, terutama masyarakat akademis. Mahasiswa yang seharusnya bergelut dengan buku, melakukan diskusi keilmuan, serta konsentrasi pada proses perkuliahan kini telah berubah. Mereka lebih suka memegang batu untuk lempar-lemparan, memegang kayu atau senjata tajam untuk memukuli mahasiswa lainnya, melakukan perbuatan mesum tanpa sedikitpun rasa malu, dan melakukan demonstrasi anarkis yang berimplikasi pada pengrusakan infrastruktur institusi atau Negara.

Sungguh perilaku seperti itu sangat tidak layak dilakukan oleh mahasiswa, apalagi kalau mereka beragama Islam. Sebab agama Islam mengajarkan agar setiap permasalahan bisa diselesaikai secara damai dan toleransi, bukan dengan kekerasan dan emosi. Nabi Muhmmad pernah bersabda “ bukanlah orang yang kuat itu adalah orang yang keras pukulannya, melainkan dia yang mampu menahan amarahnya ketika marah”. Bertolak dari hadist ini, seharusnya mahasiswa lebih besikap dewasa dan sabar dalam menghadapi segala macam permasalahan. Sebab penyelesaian masalah dengan cara kekerasan bukan malah mendatangkan kemaslahatan, melainkan akan melahirkan permasalahan baru yang tidak kunjung selesai.

Ketika realitas mahasiswa seperti itu, masih pantaskah mahasiswa dikatakan sebagai kaum intelektual, masih pantaskan mahasiswa dinobatkan sebagai agent of change, dan masih pantaskah mahasiswa menyandang predikat agent of social control. tentu pertanyaan-pertanyaan ini menjadi PR bagi semua mahasiswa di seluruh Indonesia.

Pertanyaan yang patut juga dilontarkan adalah mengapa dekadensi moral itu bisa terjadi di lingkungan mahasiswa dan masyarakat pelajar secara umum. Bukankah ketika ilmu atau intelektualitas seseorang bertambah maka moralitas yang dia miliki akan bertambah lebih baik?. idealnya memang seperti itu. akan tetapi ketika intelektualitas tidak memberikan pengaruh positif pada moralitas mahasiswa, maka berarti ada sesuatu yang salah (something wrong) dan ketimpangan dalam proses transformasi dan transmisi ilmu atau dalam pengembangan inteletualitas.

Menurut penulis ada beberapa faktor yang menyebabkan demoralisasi atau ketimpangan antara intelektualitas dan moralitas di lingkungan mahasiswa. Pertama, kurikulum yang terdapat dalam perguruan tinggi lebih cendrung mengarah pada pengembangan dan peningkatan intelektualitas saja. sementara aspek moralitas atau materi akhlak sering kali dikesampingkan bahkan nyaris diabaikan. Sehingga wajar ketika terjadi demoralisasi yang mengakibatkan adanya bentrokan, tawuran, praktek aborsi, dan semacamnya.

Diabaikannya materi perkuliahan yang mengajarkan tentang moral atau yang sering disebut Ahlakul karimah ini sangat tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, sebagaiman yang termaktub dalam undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidkan nasional yang menetapkan bahwa “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan mejadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kalau kita teliti dalam tujuan pendidikan nasional itu, maka dapat kita temukan bahwa tujuan pendidikan, selain menyiapkan mahasiswa sebagai kader-kader masyarakat yang mempunyai keahlian dalam bidang keilmuan atau intelektual yang tinggi, juga harus memiliki dan dibekali dengan akhlakul karimah atau moralitas tinggi pula, sehingga terjadi hubungan yang sinergis antara kedua aspek ini, yakni aspek intelektual dan aspek moral.

Kedua, guru atau dosen hanya bisa mentransformasikan ilmu kepada mahasiswa. Padahal tanggung jawab guru atau dosen tidak hanya mentransformasikan ilmu, meliankan juga harus mendidik moral mahasiswa. Artinya seorang dosen harus memiliki andil yang signifikan dalam pembentukan karakter dan integritas mahasiswa, baik dalam aspek kognitif maupun afektif yang akan berpengaruh pada prilaku yang dimunculkan. Akan tetapi dalam realitasnya banyak dosen yang hanya mendidik mahasiswa dalam tataran intelektual saja. Silabus materi perkuliahan disampaikan dengan sikap apatis terhadap pengembangan moralitas. Sehingga Moralitas menjadi sangat terabaikan dalam kenyataan kampus. akibatnya mahasiswa mengalami krisis keteladanan yang pada akhirnya akan berakibat pada dekadensi moral.

Ketiga, kurangnya kesadaran dari mahasiswa itu sendiri. Mereka tidak sadar bahwa dirinya mempunyai tanggung jawab dan kewajiban yang besar, yaitu belajar dengan rajin, berdiskusi, mengerjakan tugas akademik dan semacamnya. Karena bagaimana pun mahasiswa adalah harapan bangsa yang harus mampu menyongsong perubahan ke arah yang lebih positif.

Wallahu a’lam bis shawab…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *